APTRI : Penyerapan Bulog Belum Atasi Masalah

Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen, menilai penyerapan gula petani yang akan dilakukan Bulog belum menyelesaikan masalah struktur tata niaga gula.

Soemitro mengatakan saat ini ada sekitar 300.000 ton lebih gula petani yang belum terserap pasar (siap serap). Jumlah itu merupakan bagian dari produksi gula petani yang diperkirakan mencapai 1,2 juta ton tahun ini.

Seperti yang terjadi tahun lalu, kalangan petani pesimistis gula mereka terserap pasar dengan harga layak. Pedagang saat ini enggan menyerap gula tani karena takut tidak boleh menjual gula petani dalam bentuk curah.

Selain soal penyerapan, kebijakan terkait gula juga dinilai tidak sinkron. Tim survei yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan Kementerian Pertanian, mengusulkan harga acuan gula petani Rp. 10.500 per kilogram (kg). Namun, Kementerian Perdagangan menetapkan harga acuan pembelian di petani Rp. 9.100 per kg, sementara rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Perekonomian menugaskan Perum Bulog membeli gula petani Rp. 9.700 per kg.

Menurut Soemitro, seharusnya harga gula diserahkan pada mekanisme pasar yang dinamis namun teekontrol. Ketika harga dikontrol pemerintah, petani jadi pihak yang dirugikan karena harga tertekan.

Hal senada diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) APTRI, M Nur Khabsyin pesimistis Perum Bulog serius membeli gula petani. Khabsyin mengatakan tahun lalu, Bulog juga tidak bisa merealisasikan hal tersebut.

Menurut Khabsyin, tahun lalu juga tidak ada realisasi pembelian. Padahal tahun lalu juga Bulog ditugasi untuk membeli gula petani.

Leave a Reply