Petani Tebu Keluhkan Nasibnya ke Presiden

Foto : Dokumen Biro Pers Setpres (Ketua Dewan Pengawas APTRI Dwi Irianto Suprihatmoko  bersama perwakilan petani lainnya)

Petani Tebu diundang dalam acara pembukaan Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2018 di Istana Negara yang dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. Joko Widodo. Dalam kesempatan tersebut perwakilan petani tebu Indonesia di wakili oleh Soemitro Samadikoen selaku Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan Dwi Irianto Suprihatmoko selaku Ketua Dewan Pengawas APTRI.

Dalam kesempatan tersebut, Soemitro menyampaikan kepada Presiden bahwa saat ini Petani Tebu mengeluh mengenai lelang gula karena pedagang gula yang enggan menawar gula sebagaimana lelang gula tahun-tahun yang lalu. Dalam kesempatan tersebut Soemitro meminta agar Pemerintah memberikan solusi agar gula petani ada yang membeli dengan harga yang sesuai harapan petani dan tidak merugikan petani.

Soemitro juga menyampaikan bahwa kondisi tata niaga pergulaan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, Petani Tebu sebagai tulang punggung terhadap pemenuhan kebutuhan gula nasional merasa tidak mendapat perhatian yang sepadan.

Menurut Soemitro, petani tebu masih kurang memperoleh perhatian, masih banyak kendala yang dihadapi oleh petani tebu, mulai dari kendala memperoleh pupuk yang tepat (jumlah, jenis dan waktu), tingginya biaya produksi yang terus meningkat sampai dengan sulitnya memasarkan produk gula dengan nilai yang memadai terlebih menguntungkan, kendala permodalan dan  kendala lainnya yang masih banyak dihadapi petani tebu. Soemitro juga mengeluhkan mengenai merembesnya gula rafinasi kepasar konsumsi dan juga terlalu banyaknya kuota impor raw sugar karena hal tersebut sangat merugikan petani tebu.

Hal senada juga disampaikan oleh Dwi Irianto Suprihatmoko selaku Ketua Dewan Pengawas APTRI. Selain banyaknya persoalan seperti yang diungkapkan oleh Ketum APTRI tersebut, Dwi mengungkapkan juga pada musim giling tahun ini sungguh sangat memberatkan bagi petani, karena rendemen masih sangat rendah rata-rata 6 – 7 % dengan produksi 80 Ton/ Ha. Rendemen rendah disebabkan mesin pabrik gula yang sudah tua. Mengingat tebu petani sebagian besar digiling di Pabrik Gula milik BUMN. Dengan rendahnya rendemen tebu petani selama ini menunjukan bahwa diperlukan segera melakukan revitalisasi pabrik gula milik BUMN.

Selain itu, Dwi juga mengungkapkan penghasilan petani tebu saat ini sangat minim dan masih dibawah UMR disetiap daerah masing-masing. Menurut Dwi, Indonesia mustahil bisa swasembada gula jika petani tebu masih belum sejahtera. Dwi juga menyampaikan kepada Presiden agar Pemerintah serius memperhatikan petani tebu, jika tidak maka banyak petani tebu enggan lagi menanam tebu. Dalam kesempatan tersebut Dwi juga menekankan Pemerintah juga harus mendengarkan aspirasi Petani.

Leave a Reply